`Musim Penghujan telah tiba waspadai bencana angin puting beliung dan nyamuk eijepti bahaya penyakit DB ( Demam Berdarah )

AKHIRNYA PANEN

Setelah sekian tahun terkena serangan ham wereng,, akhirnya petani desa mendak merasakan Panen padi lagi, Alhamdulillah Bisa Panen .

Mau Merangkap Jadi Wartawan Online

berpose Reporter Metro Tv.

DEMO PERANGKAT DESA

Desa Menuntut Keadilan dan Kesejahteraan dengan disahkannya UU Perdesaan.

Bersama Membangun Kemandirian

Selogane orang Desa

KANTOR DESA MENDAK

Dibangun pada ahun 1970 dengan biaya Rp 2.000.000.

Wednesday, September 14, 2011

PUNCAK KEMARAU KELOMPOK TANI SEDYO MAKMUR DESA MENDAK BERBENAH DIRI



Antisipasi puncak kemarau kelompok tani Sedyo Makmur  Desa Mendak melakukan gotong royong pembersihan dan perbaikan saluran irigasi di persawahan mereka,kegiataan ini dilakukan karena debit air sudah berkurang  dan diharapkan saluran irigasi bisa lancar dan tidak bocor .
Karena adanya pola tanam yang serentak setelah hilangnya hama wereng coklat kelompok tani Sedyo Makmur  juga menerapkan pen-jadwalan  giliran air secara bergantian untuk block – block persawahan yang ada,ini dilakukan agar supaya semua rata mendapat  jatah giliran air dan petani tidak saling berebut air







Dari informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau akan berlangsung hingga pertengahan Oktober 2011.
Menurut BMKG, potensi turunnya hujan pada September ini sangat kecil. "Setelah melewati pertengahan Oktober, baru ada potensi turun hujan. Karena umumnya di Pulau Jawa, hujan baru terjadi pada bulan itu," sumber dari  Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Edvin Aldrian.

Meski demikian Edvin mengungkapkan, saat ini suhu masih dalam kondisi normal, yaitu antara 32-34 derajat Celcius. "Tapi, kalau nantinya terjadi peningkatan suhu, itu bagus. Karena menunjukkan mulai masuk masa pancaroba dan potensi turunnya hujan semakin besar

Monday, August 15, 2011

KEGIATAN TARLING DI 4 MASJID DI DESA MENDAK





MENDAK,( 15 Agustus 2011 )Bulan Suci ramadhan  merupakan bulan yang penuh barokah dan maghfiroh (ampunan ) ,momentum ini harus dijadikan sebagai sarana interupeksi diri dan berlomba lomba dalam amal kebaikan ( fastabiqul khairat ). Untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah di bulan ramadhan yang suci ini,Pemerintah Desa Mendak beserta jajaranya  dan anggota BPD selama bulan puasa ini melaksanakan sholat tarawih keliling (tarling) sebanyak 4 kali, demikian ungkap Kades Mendak Drs. H. Sentot Subagyo
 Kegiatan tarling salama bulan Ramadhan sudah menjadi rutinitas tahunan.Karena itu,Pemerintahan Desa Mendak beserta jajarannya  dan anggota BPD telah mengadakan tarling empat  putaran,yakni di masjid Rohmat Dukuh mendak.masjid Darussalam Dukuh mendak ,masjid Istiqomah Dukuh Miliran dan masjid Al-Jabbar  Dukuh Gayam.













‘’Kegiatan ini  bertujuan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan keimanan di bulan Ramadhan , dan sekaligus  juga sebagai media  silahturahmi dengan  warga serta pemersatu antar umat beragama .Tarling juga digunakan sebagai media untuk sosialisasi program pemerintahan.

Wednesday, July 27, 2011

TRADISI NYADRAN DI DUKUH GAYAM DESA MENDAK warga berebut jajanan pasar




Mendak, 27 Juli 2011 ,Tradisi Nyadran atau Sadranan yang berarti membersihkan tempat makam sekaligus mengirim doa untuk leluhur setiap bulan Ruwah (Kalender Jawa) atau Syaban (Kalender Hijriyah), adalah sedikit dari budaya masyarakat Jawa yang masih berlangsung. Kata Ruwah sendiri memiliki akar kata “arwah”, atau roh para leluhur. Konon dari arti kata arwah itulah yang menjadikan bulan  Ruwah sebagai bulan untuk mengenang sekaligus mendoakan para leluhur.





Di dukuh Gayam desa Mendak Kecamatan Delanggu tradisi Nyadran ini memang sedikit unik. Tidak hanya membersihkan makam dan mendoakan leluhur, dalam tradisi yang sudah berlangsung turun temurun ini warga juga saling bersilaturahmi,berkumpul untuk melakukan kenduri dengan makanan jajanan pasar seadanya yang nantinya diperebutkan bersama sama.Hal itu dilakukan kemarin sore di Dukuh Gayam desa Mendak yang terlaksana dengan penuh rasa kebersamaan dan antusias yang tinggi //.Abdul Qohar.

Monday, July 25, 2011

SEMANGAT GOTONG- ROYONG MASYARAKAT DI DESA MENDAK MASIH TINGGI



Gotong royong adalah kegiatan yang yang sudah lama ada dan dilakukan oleh para warga masyarakat indonesia, khususnya di perkampungan ataupun di pedesaan. gotong royong itu sendiri artinya adalah bekerja dengan bersama-sama atau bekerjasama melakukan kegiatan  kampung/desa mereka dengan komunitas semua warga yang biasanya dikomandoi oleh ketua RT atau RW setempat bisa ikut berpartisipasi  semua, bapak-bapak, ibu-ibu, remaja dan anak kecil bisa ikut bergotong royong membersihkan kampung mereka. mereka semua bisa berpartisipasi semua dengan apa saja, seperti ibu-ibu yang bisa berpartisipasi dengan membuat makanan dan minuman untuk bapak-bapak dan para remaja.






 


 

Namun untuk ibu ibu yang ada di desa Mendak tidak hanya itu, mereka ikut bahu membahu bekerja di lapangan menyelesaikan pekerjaan walaupun kerja keras. Itu terjadi  pada hari minggu kemarin dalam kegiatan PNPM –MP dengan bergotong royong /kerja bhakti betonisasi memperbaiki jalan kampung yang telah rusak di RW 1 dan 2 desa Mendak  Kecamatan Delanggu. Dengan semangat dukungan dari ibu ibu tadi gotong royong yang dimulai dari jam 07:00 Wib  sampai jam 00:00 tengah malam sampai tidak terasa.











Gotong royong sendiri menjadi ajang silahturahmi yang bagus para warga desa yang melakukan kegiatan tersebut, nggak perduli siapa yang kaya atau miskin mereka bersam-sama membersihkan lingkungan mereka. Tradisi ini seharusnya bisa sering dilakukan oleh para warga masyarakat indonesia untuk memupuk rasa kebersamaan, rasa persatuan dan kesatuan.//yt

Monday, July 18, 2011

Tradisi Ruwahan Tahun 2011 di Desa Mendak Kecamatan Delanggu








Tradisi adalah kebiasaan yang dilakukan oleh suatu kelompok anggota masyarakat yang mengacu pada apa yang telah dilakukan pada generasi sebelumnya. Menurut Van Peursen (1976 :11) tradisi merupakan pewarisan atau penerusan norma-norma , adat-istiadat, kaidah-kaidah dan pewarisan harta kekayaan.
Salah satu tradisi yang sampai saat ini masih berkembang dan dipegang teguh oleh masyarakat pendukungnya adalah tradisi ruwahan yang terjadi di Desa Mendak.  Ruwahan atau nyadranan adalah suatu tradisi masyarakat Jawa yang diselenggarakan pada bulan Ruwah, menurut  pandangan masyarakat Jawa kata Ruwah dapat diartikan sebagai “weruh-arwah” atau secara bebas dapat diterjemahkan mengingat atau mengenang arwah para leluhur. Dalam tradisi ini terdapat akulturasi antara kebudayaan Jawa dan Islam. Tujuan diadakannya tradisi ruwahan adalah untuk mendoakan arwah leluhur, kerabat, saudara sebelum memasuki bulan puasa dalam kepercayaan agama Islam. Sedangkan kebudayaan hindu tergambar dari tatacara dan sesaji yang digunakan. Selain itu tradisi ruwahan yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Mendak bertujuan untuk berterimakasih kepada pepunden desa atas rejeki dan kemudahan yang diperoleh. Rejeki yang dimaksud adalah hasil panen (padi). Hal ini dipengaruhi oleh kentalnya nuansa kehidupan petani dalam kehidupan sosial masyarakat Desa Mendak. Pada jaman dahulu masyarakat desa Mendak hidup dengan mengandalkan pertanian padi, dalam satu tahun masyarakat Desa Mendak mengadakan panen sebanyak dua kali yaitu pada bulan Sapar dan bulan Ruwah (sistem penanggalan Jawa), pada masa panen kedua (bulan Ruwah) tradisi ruwahan digelar. Hingga saat ini masyarakat Desa Mendak masih melaksanakan tradisi ruwahan setiap tahunnya, mereka memiliki kepercayaan dengan mengadakan  tradisi ruwahan mereka akan mendapatkan berbagai kemudahan dalam menjalani hidup dan kemudahan dalam hal mencari rejeki, mereka juga percacaya jika tidak mengadakan ruwahan maka akan mendapat kesulitan dalam menjalani hidup. Kehidupan masyarakat Jawa berkembang suatu kepercayaan terhadap roh-roh halus yang hidup di sekitar manusia. Roh-roh halus tersebut ada yang bersifat baik dan ada pula yang bersifat jahat. Roh-roh yang bersifat baik sering membantu manusia misalnya menjaga desa dari berbagai gangguan, roh-roh penjaga desa itu sering disebut dan yang pepunden desa, maupun bisa disebut pula dengan Bureksa. Adapun roh-roh yang bersifat jahat adalah roh-roh yang cenderung sering menggangu kehidupan manusia dimanapun berada (Koentjaraningrat, 1984: 338).







Pelaksanaan tradisi ruwahan di Desa Mendak terbagi dalam empat bagian yang tidak dapat dipisahkan, diantaranya yaitu:
1.      Membersihkan area pemakaman.
2.      Kondangan, acara makan bersama di area pemakaman.
3.      Panembrama, paduan suara yang terbentuk dari pemuda dan pemudi Desa Mendak.
4.      Pagelaran wayang kulit semalam suntuk.












Bagi masyarakat Desa Mendak tradisi ruwahan memiliki tempat tersendiri dalam kepercayaan mereka. Perihal tentang tata cara, waktu dan tempat pelaksanaannya dibatasi oleh suatu hukum/peraturan tidak tertulis yang sudah berlaku dalam waktu lama dari generasi ke generasi. Misalnya panembrama, panembrama adalah kelompok paduan suara yang terdiri dari muda mudi Desa Mendak, panembrama sebagai wujud persembahan dari kaum muda kepada generasi tua, panembrama selalu digelar sebelum perjunjukan wayang kulit dimulai. Mereka tidak berani merubah atau bahkan melanggar tradisi yang ada. Keteguhan mereka terhadap tradisi ini tidak dapat digoyahkan.// Aris Wicaksono


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More